Kerajaan Banawa didirikan oleh
Sawerigading dengan puteranya bernama La Galigo. Dengan perahu layar yang
ramping bernama Banawa, mereka mengarungi lautan sampai ke pesisir barat
Sulawesi Tengah dan berlabuh di sebuah pantai kira-kira 7 km dari kota Donggala
sekarang. Pantai tersebut dinamakan Langga Lopi dan daerah disekitarnya disebut
Banawa. Di daerah ini La Galigo menikah dengan puteri Kaili dari Kerajaan Pudjananti
bernama Daeng Malino Karaeng Tompo Ri Pudjananti sebagai isteri keempatnya.
Dari pernikahan tersebut melahirkan dua orang anak, yang putra bernama
Lamakarumpa Daeng Pabetta La Mapangandro (Pergi menantang kemudian menang
akhirnya semua menyembah kepadanya) sedangkan yang puteri diberi nama Wettoi
Tungki Daeng Tarenreng Masagalae Ri Pudjananti (bintang tunggal yang semua
orang menjadi pengikutnya).
Oleh kakek dan ayahnya, La
Mapangandro dinikahkan dengan cucu Arung Mangkane Ri Bone.Dari pernikahan tersebut,
maka didirikanlah sebuah kerajaan bernama Banawa beribukota di Pudjananti yang
jauhnya sekitar 5 km dari Kota Donggala sekarang. Pada saat itu Kerajaan Banawa
memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan
Pelabuhan Donggala
- Sebelah Barat berbatasan dengan
Dataran Luas atau Lappaloang
- Sebelah Timur berbatasan dengan
Pegunungan Kabonga dan Loli
- Sebelah Selatan berbatasan
dengan Limbabo dan Tovale
Tetapi pada zaman pemerintahan
Raja Banawa VII La Sa Banawa dan Raja Banawa IX La Marauna, Kerajaan Banawa
yang merupakan kerajaan lokal memiliki luas wilayah sekitar 460.000 Ha terbagi
atas tiga bagian sebagai berikut :
- Banawa Selatan : dari Loli
Watusampu sampai Surumana berbatasan dengan Mamuju
- Banawa tengah : dari Pantoloan
sampai Sindue
- Banawa Utara : dari Balaesang
sampai Dampelas Sojol termasuk Pulau Pasoso, Pangalasing, Tingoan danMapute.
Sejak pemerintahan Raja Banawa
VII La Makagili, Kerajaan Banawa yang berpusat di Pudjananti tepat pada Tanggal
23 Juli 1893 dipindahkan ke Donggala. Sejak itu, Donggala menjadi ibukota
Kerajaan Banawa sampai pada akhir pemerintahan Raja Banawa XII Andi Parenrengi
atau La Parenrengi. Sejalan dengan dihapusnya daerah-daerah Swapraja di seluruh
Indonesia, sekarang Banawa hanyalah sebuah kecamatan dari ibukota Kabupaten
Donggala.
Berikut ini silsilah singkat
Raja-raja Banawa :
1. Raja Banawa I
Bernama I Badantasa, anak ke
tujuh (Putri Bungsu) dari perkawinan Puteri Peambuni dengan Petta Manurung.
Menikah dengan La Mapangandro (Putera dari La Galigo) dan memiliki dua orang
puteri yaitu : I Tasa Banawa (menjadi Raja Banawa II) dan Gonenggati (diangkat
menjadi Magau Kayunggahui)
2. Raja Banawa II (1552 – 1557)
Bernama I Tasa Banawa, mengembangkan
kekuasaan kerajaan ke daerah sekitarnya dan membentuk dewan Hadat Pittunggota.
Menikah dengan Magau Lando Dolo dan mempunyai dua orang puteri yaitu : Puteri
Kotambulava yang lahir bersama seekor ular diberi nama Siri Banawa yang
kemudian dihanyutkan ke Uwe Makuni. Kotambulava kemudian menjadi Madika Banawa
menikah dengan Sawalambara mempunyai anak bernama Intoraya (menjadi Raja Banawa
III). Sementara itu, puteri kedua I Tasa Banawa bernama Puteri Taranggita yang
diangkat menjadi Madika Malolo Banawa dan menikah dengan Madika Matua Bale.
3. Raja Banawa III (1650 – 1698)
Bernama Intoraya yaitu cucu dari
Raja Banawa II. Merupakan raja yang pertama memeluk agama Islam di Kerajaan
Banawa yaitu pada tahun 1652. Menikah dengan La Masanreseng, Arung dari Cendana
Mandar dan mempunyai empat orang anak yaitu : La Bugia (diangkat menjadi Raja
Banawa IV), La Lotako, Puteri Nanggiwa dan Puteri Nanggiana.
4. Raja Banawa IV (1698 – 1758)
Bernama La Bugia, laki-laki
pertama yang memerintah Kerajaan Banawa. Menikah dengan sepupu sekalinya
Kotambulava yang dikaruniai dua orang anak yaitu : Puteri Isa Bida (Raja Banawa
V) dan La Sauju. La Sauju kemudian menikah dengan To Nagaya Madika Tavaili yang
menurunkan keturunan sampai pada generasi Lamakampali.
5. Raja Banawa V (1758 – 1800)
Bernama Isa Bida, raja wanita
yang pemberani dan sakti. Menikah dengan Madika Matua Banawa dan memperoleh
empat orang anak yaitu : La Bunia, Kalaya, Lauju dan Puteri Sandudogie
(diangkat menjadi Raja Banawa VI)
6. Raja Banawa VI (1800 – 1845)
Bernama Puteri Sandudogie, raja
wanita terakhir yang memegang tampuk pimpinan. Menikah dengan Magau Lando Dolo
dan memperoleh seorang putera bernama La Sa Banawa (diangkat menjadi Raja
Banawa VII)
7. Raja Banawa VII (1845 – 1889)
Bernama La Sa Banawa (bergelar
“Mpue Mputi”) menikah dengan I Palusia dan dikaruniai dua orang putera yaitu :
I Tolare menikah dengan Hanani Kabonga mempunyai anak bernama La Gaga (menjadi
Raja Banawa X) dan La Marauna (diangkat mnejadi Raja Banawa IX)
8. Raja Banawa VIII (1889 – 1903)
Bernama La makagili, terkenal
sebagai yang paling berani dan gigih melawan pemerintah Belanda.
Keturunan-keturunan raja La Makagili pada umumnya masih banyak menetap di
Pantoloan.
9. Raja Banawa IX (1903 – 1926)
Bernama La Marauna (bergelar
“Mpue Totua”). Diangkat menjadi Magau Tavaili pada tahun 1900 – 1905. Raja
pemberani dan bijaksana yang disegani oleh Pemerintah Belanda.
10. Raja Banawa X (1926 – 1932)
Bernama La Gaga putera dari I
Tolare (kakak Raja La Marauna) dilantik oleh Dewan Hadat Pitunggota.
11. Raja Banawa XI (1932 – 1947)
Bernama La Ruhana putera keempat
dari raja La Marauna.
12. Raja Banawa XII (1947 – 1959)
Bernama La Parenrengi, putera
bungsu Raja La Marauna menikah dengan Hajja Sania Tombolotutu. La Parenrengi
adalah Ketua PNI Pertama di Sulawesi Tengah sekaligus menjadi raja terakhir
pada masa Kerajaan Banawa, ia meninggal di Palu pada tahun 1986.










BERANDAKU
0 komentar:
Posting Komentar