DONGGALA salah satu kota niaga
yang dikenal sebagai kerajaan maritim bernama Banawa tempo dulu yang kini telah berusia sekitar 7 abad. Usia
tua itu mengacu pada catatan yang menyebutkan, Donggala abad 14 sudah sering
disinggahi kapal niaga untuk perdagangan dan pencarian kayu cendana oleh
orang-orang Eropa.
Bahkan bisa jadi, jauh sebelum
abad 14, Donggala sudah menjadi salah pusat peradaban cukup penting di
Nusantara, mengingat adanya permukiman cikal bakal terbentuknya kota itu sudah
cukup lama. Menurut cerita turun-temurun, di sebelah barat terdapat permukiaman
tua, tepatnya Ganti (dulu Pudjananti). Dahulu kala, permukiman yang kini jadi
kota masih merupakan laut teluk. Konon, air laut sampai di Ganti, sehingga
pelabuhan lama berada dalam teluk yang kini jaraknya 2 kilometer lebih dari
Pelabuhan Donggala sekarang. Sebagai bukti-bukti arkeologi, menunjukkan di
sekitar perkampungan menuju Ganti sangat mudah ditemui pecahan-pecahan kerang
berserakan.
Masyarakat Donggala dan Ganti
sendiri mempercayai hal itu. Apalagi di Ganti juga ada tempat bernama
Langgalopi yang dalam bahasa Bugis Donggala berarti “galangan perahu atau
kapal”. Konon, di situlah kapal Sawerigading yang dikenal dalam sure I Lagaligo
dari Tanah Luwuk yang dikenal sebagai petualang dan penguasa lautan dengan
ratusan armada setiap melakukan pelayaran ke berbagai kawasan, pernah berlabuh
dan menyangga kapalnya di tempat itu untuk diperbaiki. Setelah kedatangan
Sawerigading di Ganti ia melanjutan pelayaran ke Kerajaan Bangga dan kemudian
ke Sigi di Teluk Kaili yang kala itu, Lembah Palu juga masih berupa perairan
laut teluk.
Pelayaran tersebut bermaksud
menjalin persahabatan dan tak terkecuali bermaksud mencari wanita-wanita cantik
untuk dijadikan istri. Tapi selama di Tanah Kaili, Sawerigading gagal mengawini
Ngilinayo, ratu Sigi, karena saat meminang tiba-tiba saja terjadi bencana alam
dahsyat (gempa bumi), sehingga pembicaraan pinang-meminang berubah jadi saling
menyelamatkan diri dan berakhir menjalin persahabatan dan persaudaraan.
Menurut legenda, akibat bencana
itulah, kemudiaan perairan teluk yang kini kota Donggala dan Palu, jadi
mengering, setelah air laut surut dan sebagian teluk tertimbun tanah. Penduduk
di punggung-punggung pegunungan pun mulai turun ke lembah bekas laut itu
sebagai pemukiman baru secara turun temurun hingga sekarang.
Benar-tidaknya cerita ini, memang
belum dapat dipastikan. Tapi yang jelas bila dihubung-hubungkan beberapa nama
tokoh dan tempat yang disebutkan dalam kitab Bugis Kuno, I Lagaligo beberapa
bagian menyebut nama Pudjananting sebagai salah satu wilayah Sawerigading dalam
melakukan petualangan dimana I Lagaligo putra Sawerigading melakukan perkawinan
dengan seorang wanita bernama Karaeng Tompo di Pudjananting. Ada pula
disebutkan tentang nama Nyilina iyo yang di di Tanah Kaili atau tepatnya di
Kerajaan Sigi dikenal sebagai raja perempuan pertama di kerajaan itu, Cuma saja
dalam kitab tersebut, Nyilina Iyo dimaksud adalah seorang laki-laki sebagai
raja Sunrariaja.
Kitab bahasa Bugis yang telah
diterjemahkan ke Bahasa Belanda oleh R.A. Kern tahun 1936 yang kemudian oleh La
Side dan Sagimun M.D diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan
Gadjah Mada University Press, 1993, sangat menarik diteliti lebih lanjut.
Beberapa nama lokasi (tempat) disebutkan di dalam suatu peristiwa, sulit
diinterpretasikan atau dicocokkan dengan nama-nama tempat yang ada sekarang,
kecuali beberapa daerah lainnya. Sebab mungkin nama-nama tempat dalam peristiwa
ratusan tahun silam itu, kemudian berubah nama sesuai perkembangan
masyarakatnya.
Salah satu daerah jelajah
Sawerigading adalah Pudjananting. Mungkin yang dimaksud itu adalah Pudjananti
(sekarang: Ganti), mengingat orang Kaili dalam melafalkan suatu nama berakhiran
ng, selalu tidak disebutkan, sehingga Pudjananting itulah disebut Pudjananti.
Begitu pula sebutan Sawerigading dalam bahasa Bugis orang Kaili mengeja menjadi
Saverigadi dengan menghilangkan ng. Dalam kitab tersebut, bisa memperkuat
kebenaran cerita rakyat kalau Sawerigading pernah menambatkan perahunya di
Ganti. Kalau memang benar, berarti jauh sebelum itu, di daerah sekitar Donggala
sekarang ini telah menjadi permukiman sejak lama.
Pudjananti, merupakan salah satu
dari tiga kerajaan tua di Sulteng se-zaman Majapahit dan Singasari, yakni
Kerajaan Banggai (Benggawi) dan Sigi. Dalam tulisan almarhumah Andi Mas Ulun
Parenrengi (13 Tokoh Sejarah Dalam Pemerintahan Kerajaan Banawa) yang belum
diterbitkan, menjelaskan; Pudjananti mengalami masa kejayaan antara 1220-1485.
Kemudian menjadi cikal-bakal terbentuknya Kerajaan Banawa Donggala dengan raja
pertama, seorang perempuan, bernama I Badan Tassa Batari Bana, (1485-1552).
Kedua juga perempuan; I Tassa Banawa (1552-1650), ketiga masih perempuan, I
Toraya (1650-1698).
Baru raja keempat pertama
dipimpin laki-laki, La Bugia Pue Uva (1698-1758), tapi penggantinya, raja kelima
kembali dipimpin perempuan; I Sabida (1758-1800) dan raja keenam merupakan
perempuan terakhir dalam pemerintahan Banawa, bernama I Sandudongie
(1800-1845). Raja ketujuh La Sabanawa I Sanggalea Dg Paloera (1845-1888), raja
kedelapan Lamakagili Tomai Doda Pue Nggeu (1888-1902), raja kesembilan
Lamarauna Pue Totua (1902-1930), raja kesepuluh La Gaga Pue Tanamea
(1930-1932), raja kesebelas La Ruhana Lamarauna (1935-1947), raja keduabelas La
Parenrengi Lamarauna (1947-1959). Sedangkan La Malonda Pue Djoli, sebagai
pelaksana harian Kerajaan Banawa dikenal sebagai ketua dewan adat Pitunggota
(1889-1903).
Konon nama Banawa diambil dari
salah satu sebutan kapal walenrenge Sawerigading. Diabadikan sebagai kenangan
atas pertalian persaudaraan keturunan dinasti Sawerigading dari putranya I
Lagaligo. Sebab dipercaya, raja-raja yang memerintah di Pudjananti merupakan
keturunan I Lagaligo, putra Sawerigading.
Semasa hidupnya Mas Ulun yang
juga salah satu keturunan raja terakhir Banawa sangat rajin melakukan
penjejakan dokumentasi dan penulusuran sejarah Banawa. Dalam tulisannya yang
belum sempat diterbitkan [Cuma saja ia tidak menjelaskan sumbernya],
menyebutkan silsilah keturunan raja dalam pemerintahan Banawa bertitik awal
dari I Lagaligo, sebagai berikut;
I Badan Tassa, putri Patta
Manurung (kakak tertua La Umasse Raja Bone II) dari istrinya Peambuni putri
Raja Kaili dengan La Mappanganro Le Gantie putra Lagaligo Datuna Luwu-Palopo
dari istrinya Karaeng Tompo Daeng Malino Raja Pudjananti keturunan To Manurunge
ri Goa (To Mangkasak). Dibuatlah kesepakatan dari raja-raja yang menurunkan
darah bangsawan murni kepada kedua mempelai dengan hadiah seluruh wilayah
Kerajaan tua Pudjananti dengan nama baru “Kerajaan Banawa.”
Pelabuhan Jadi Rebutan
Pudjananti, dari abad ke abad
mulai dikenal sebagai salah satu kerajaan Nusantara, terlebih lagi, ketika
beralih menjadi Kerajaan Banawa. Kipranya kian besar dan dikenal lebih luas
hingga ke berbagai negara lain. Ketenaran dan peran besar yang disandangnya,
berkat bandar niaga Donggala yang mendapat perhatian orang-orang untuk
dijadikan salah satu kota jaringan perniagaan. Bahkan kapal pedagang Portugis
pernah menyerang bandar ini, untuk dikuasai, sehingga terjadi saling serang
antara pihak kerajaan dengan Portugis tahun 1669 di masa pemerintahan raja La
Bugia Pue Uva dan dapat mempertahankannya.
Sebelumnya pedagang dari Gujarat
(India), Arab dan Cina sudah sering mendatangi kota itu. Mereka membawa
barang-barang untuk dijual dan sebaliknya membeli hasil bumi berupa; rotan,
damar, kayu cendana, dan repah-rempah. Kemudian pedagang Gujarat tahun 1767
mulai memperkenalkan cara menenun kain sutra yang kini dikenal sarung Donggala
yaitu pada masa pemerintahan raja Banawa I Sabida (1758-1800).
Makin ramainya bandar ini,
membuat bangsa-bangsa asing berdatangan dengan kepentingan masing-masing.
Bahkan jauh sebelum itu telah terjalin jaringan pelayaran dan perdagangan
sebagaimana diungkapkan Indonesianis dari Prancis, Ch. Pelras dalam buku Citra
Masyarakat Indonesia (PT. Sinar Harapan), menyebutkan sebuah naskah Cina paling
tua diterbitkan dalam bentuk terjemahan tentang daerah Nusantara yang
disampaikan oleh J.V.Mills dalam Archipel No. 21 (Chinese Navigation) halaman
79 menyebut hanya mengenai Donggala di Sulawesi sesudah tahun 1430.
Jadi jelas sebelumnya sudah
menjadi kota penting memiliki daya tarik bagi pedagang, terutama untuk membeli
kayu cendana (Santalum album), salah satu jenis kayu bernilai ekonomi tinggi
banyak dicari pedagang dari Eropa. Orang Eropa pertama yang tinggal di Sulawesi
Selatan bernama Antonio de Paiva dalam tahun 1542-1543 yang bermaksud
mendapatkan kayu cendana, menurut Pelars rupanya diperkirakan bisa diperoleh di
daerah Donggala. Saat itu di daerah Kaili banyak ditumbuhi pohon cendana akar.
Kesaksian terakhir disampaikan oleh seorang peniliti Dr. Boorsman, pernah
menemukan beberapa batang pohon cendana di pegunungan yang hampir gundul di
sekitar Palu-Donggala. Sayang jenis kayu ini sudah punah, kecuali tinggal
beberapa pohon masih dapat ditemui di suaka alam Poboya, Palu Timur.
Dalam perkembangannya, Donggala
bukan saja dikenal kota pelabuhan, tapi juga kota pelajar, kota niaga
(perdagangan), kota pemerintahan, kota perjuangan dan kota budaya yang sering
mendapat kunjungan. Josep Condrad, misalnya seorang pengarang berkebangsaan
Inggris kelahiran Polandia, menjadikan Donggala sebagai salah satu tempat
penjelajahan Nusantara (1858-1924) dan sempat menjalin persahabatan dengan La
Sabanawa I Sangalea Dg Paloera, raja Banawa ke-7 (1845-1888).
Tapi pemerintah Hindia Belanda-lah
yang akhirnya menguasai penuh bandar ini setelah sejak lama melakukan
penaklukan dengan memaksa raja menandatangani berbagai perjanjian, salah satu
cara penaklukan halus. Raja Banawa ke-VI, I Sandudongie, tahun 1824 terpaksa
menandatangani kontrak dengan Pemerintah Belanda, demikian pula
kerajaan-kerajaan lain mengalami hal yang sama. Berbagai penekanan dan
adudomba, dapat memuluskan Belanda membangun Kantor Doane dan berbagai
fasilitas perkantoran, demi memperlancar monopli perdagangan dan kekuasaan segala
hal.
Maka sejak awal abad 20,
kedudukan Belanda makin kuat menjalankan kekuasannya di Donggala hingga
kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Pada masa kemerdekaan itu, Donggala
masih tetap mengandalkan bandar lautnya dalam beberapa dekade sebagai pintu
gerbang pendistribusian barang-barang produksi ke berbagai kota di Sulteng.
Jadi Donggala sebagai kota dan
pelabuhan adalah ibarat satu jiwa dan raga yang tak terpisahkan. Tapi sayang
dalam perjalanan sejarah kota pelabuhan ini mengalami pasang-surut yang tidak lepas
dari percaturan politik berbagai pihak yang memiliki kepentingan. Bukan saja
kehadiran pemerintah Belanda terlalu banyak menimbulkan konflik dan adu-domba
antarkerabat raja-raja. Pendudukan tentara Jepang dan kehadiran tentara
Sekutu/NICA dalam Perang Dunia II, membuat kota yang dibangun ratusan tahun
silam kembali kecipratan sengsara dengan hantaman bom sehingga porak-poranda.
Memang fungsi pelabuhan bukan
saja jadi nadi perekonomian, tapi juga menjadi area kebudayaan dan politis
pergerakan perjuangan kemerdekaan. Sekedar contoh, ketika terjadi penolakan
pendudukan Belanda yang diboncengi Sekutu/NICA, barisan Pemuda Indonesia
Merdeka (PIM) melakukan penurunan bendera merah-putih-biru milik pemerintah
Hindia Belanda di halaman Kantor Doane (Bea dan Cukai), Pelabuhan Donggala, 21
November 1945.
Tahun 1957 pemberontak Permesta
membombardir pelabuhan dengan serangan udara pesawat Bomber AUREV B-26,
mengakibatkan lima kapal perang RI (Moro, Giliraja, Mutiara, Insumar dan RI
Palu) yang sedang berlabuh tenggelam bersama peralatan perang; senjata, truk,
tank dan bermacam perbekalan perang, serta menewaskan sejumlah anak buah kapal
dan nahkoda kapal Moro.
Rebutan dan penderitaan belum
sampai disitu. Kebijakan pemerintah Orde Baru yang mengalihkan fungsi dan status
pelabuhan nasional Donggala ke Pantoloan tahun 1978, redup pula mobilitas
perekonomian dalam kota. Bahkan hingga kini di era reformasi, episode “rebutan”
masih akan berlanjut entah sampai kapan?
Ketika cerita kejayaan masa silam
itu dibuka kembali, seakan hanya sebuah legenda bagi generasi mendatang. Tapi
itulah sebuah geliat budaya yang pernah berproses di sebuah pelabuhan. *
Sumber : DISINI










BERANDAKU
0 komentar:
Posting Komentar